Jumat, 09 Oktober 2009

Porifera

BAB I
PENDAHULUAN



Setiap organisme apakah tanaman atau hewan adalah unik dalam dirinya sendiri. Ada keanekaragaman flora (tanaman) dan fauna (hewan) di dunia. Keragaman yang kita lihat sekarang adalah hasil dari 3,5 miliar tahun evolusi organik. Selama evolusi ini beberapa spesies menghilang dari permukaan bumi dan menjadi punah. Diperkirakan bahwa lebih dari lima puluh kali spesies yang ada telah punah. Dengan sejumlah besar organisme - baik yang hidup dan punah, maka akan menjadi mustahil untuk belajar setiap orang dari mereka pada tingkat individu. Tugas ini mempelajari keragaman organisme hidup dapat dibuat lebih mudah dan lebih efektif jika berbagai organisme tersebut diatur dalam tertib.


BAB I
PEMBAHASAN



Porifera berasal dari kata porus yang berarti lubang kecil dan faro yang berarti membawa atau mengandung. Jadi, Porifera dapat diartikan hewan yang tubuhnya mengandung lubang-lubang kecil atau hewan berpori-pori dan sebagai filum untuk hewan multiseluler yang paling sederhana.

Ahli Botani masa lalu, mengelompokkan spons (porifera) ke dalam Kerajaan Plantae karena bentuknya yang bercabang-cabang dan tidak mampu bergerak secara nyata. Spons baru dikelompokkan ke dalam Kingdom Animalia pada tahun 1765, setelah dilakukan penelitian dan pengamatan arus air melalui oskulumnya yang bergerak.

Anggota Filum Porifera disebut dengan sebutan spons. Spons merupakan hewan air yang umumnya hidup di perairan laut dangkal yang bebas polusi. Di dunia, terdapat sekitar 10.000 spesies spons, dan hanya 100 spesies saja yang hidup di perairantawar. Spons dewasa bersifat sesil, hidup menempel pada batu, cangkang kerang, dan permukaan keras lainnya.

1. Ciri – Ciri Porifera

Ciri-ciri morfologi porifera antara lain:
• tubuhnya berpori (ostium)
• tubuh porifera asimetri (tidak beraturan), meskipun ada yang simetri radial.
• berbentuk seperti tabung, vas bunga, mangkuk, atau tumbuhan

Ciri-ciri anatomi dari porifera antara lain:
• memiliki tiga tipe saluran air, yaitu askonoid, sikonoid, dan leukonoid
• pencernaan secara intraseluler di dalam koanosit dan amoebosit

Porifera hidup di air laut dan air tawar, tapi kebanyakan hidup di laut mulai dari daerah perairan pantai yang dangkal hingga kedalaman 5,5 km. Bentuk tubuhnya seperti tabung atau jambangan bunga yang bersifat simetris radial. Di dalam tubuhnya terdapat rongga tubuh yang disebut spongosol. Dalam fase hidupnya mengalami dua bentuk, yaitu polip (hidup berenang bebas). Ini terjadi pada fase larva.

Lalu yang kedua sessil(hidup menetap). Contoh dari porifera adala spons.
Freshwater spons tinggal di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Spons merupakan hawan yang hidup menempel pada suatu substrat di laut. Telah diketahui kira-kira 2500 spesies, ada beberapa yang hidup di air tawar, tetapi sebagian besar hidup di laut. Kebanyakan perusahaan membutuhkan spons permukaan di mana untuk melampirkan, seperti batu atau kerangka spons dan karang mati. Spons air tawar biasanya hidup di danau dan sungai.

Ciri-ciri fisik Freshwater spons adalah crustlike, bercabang, atau mengelompok. Tekstur sangat rapuh dan lembut, dan warnanya putih atau hijau. Tawar teratur spons telah tersebar dan nyaris tak terlihat lubang keluar air. Permukaan yang tidak rata dan kasar oleh spicules. Tubuh spons terdiri dari dua lapisan sel, diantara kedua lapisan tersebut terdapat bagian yang tersusun dari bahan yang lunak disebut mesoglea. Sel-sel yang membentuk lapisan dalam mempunyai flagea, yang mengatur aliran sel-sel ini dapat ”menangkap” partikel makanan.Bentuk spons ditentukan oleh kerangka tubuh. Kerangka tersusun dari spikula. Spikula tersebut dari sel-sel yang terdapat dalam mesoglea. Spikula tersusun dari silika atau kapur (kalsium karbonat). Beberapa spons tidak memiliki serabut-serabut yang lentur dari zat yang disebut spongin. Spons terdapat di perairan yang dangkal di daerah tropis. Bila spons diolah dapat digunakan untuk bahan atau alat pembersih.

Seperti yang kita ketahui suatu organisme yang melekat pada suatu substrat, harus mempunyai cara untuk menyebar keturunannya ke tempat lain. Untuk tujuan itu sponsa menghasilkan larva kecil yang dapat ”berenang” dengan bebas. Larva tersebut memisahkan diri dari induknya dan setelah menemukan tempat hidup yang sesuai larva akan melekat disitu dan berkembang menjadi hewan dewasa.


a. Struktur Tubuh
Tubuh porifera belum membentuk jaringan dan organ sehingga porifera dikelompokkan dalam protozoa. Permukaan luar tubuhnya tersusun dari sel-sel berbentuk pipih dan berdiding tebal yang disebut pinakosit.
Pinakosit berfungsi sebagai pelindung. Diantara pinakosit terdapat pori-pori yang membentuk saluran air yang bermuara di spongosol atau rongga tubuh.Spongosol dilapisi oleh sel “berleher” yang memiliki flagelum, yang disebut koanosit.Flagelum yang bergerak pada koanosit berfungsi untuk membentuk aliran air saru arah sehingga air yang mengandung makanan dan oksigen masuk melalui pori ke spongosol.Di spongosol makanan ditelan secara fagositosis dan oksigen diserap secara difusi oleh koanosit.Sisa pembuangan dikeluarkan melalui lubang yang disebut oskulum.

Zat makanan dan oksigen selalin digunakan oleh koanosit, sebagian juga ditransfer secara difusi ke sel-sel yang selalu bergerak seperti amoeba, yaitu amoebosit (sel amoeboid).Fungsinya pun sama yaitu mengedarkan makan dan oksigen keseluruh sel-sel tubuh lainnya.

Struktur tubuh Ada yang seperti jambangan, piala, terompet dan ada yang bercabang– cabang. Saluran air didalam tubuh bagian tengah disebut spongosol (paragaster) sedangkan oskulum merupakan lubang tempat keluarnya air. Tubuhnya berpori- pori.
Lapisan penyusun dinding tubuh porifera terdiri dari :
1. Epidermis ( lapisan terluar ), tersusun oleh sel epitelium yang pipih ( pinakosit).
2. Mesoglea ( berupa gelatin ), lapisan pembatas antara lapisan dalam dan luar yang mengandung sel ameboid ( berfungsi untuk mengangkut zat makanan dan sisa metabolisme ) dan sel skleroblas ( berfungsi membentuk spikula )
3. Endodermis ( lapisan dalam ), terdiri dari sel leher atau koanosit yang memiliki flagela dan berfungsi mencerna makanan.


b. Sistem Sirkulasi Air
1) Tipe Askon : sistem saluran air yang paling sederhana, secara berurutan terdiri atas ostia, spongiosel, dan oskulum. Contohnya: Leucosolenia dan Clatharina blanca.
2) Tipe Sikon : saluran airnya meliputi ostia, saluran radial yang tidak bercabang, spongiosel, dan oskulum. Contohnya : Pheronema sp., Schypa, dan Sycon gelatinosum.
3) Tipe Leukon (ragon) : tipe terumit. Salurannya terdiri atas ostia, saluran radial yang bercabang-cabang, spongiosel, dan oskulum. Contohnya: Euspongia officinalis dan Euspongia mollissima.

2. Penggolongan Porifera
Porifera dibedakan menjadi 3 kelas berdasar pembentuk kerangka :
a. Calcarea
Calcarea (dalam latin, calcare = kapur) atau Calcispongiae (dalam latin, calci = kapur, spongia = spons) memiliki rangka yang tersusun dari kalsium karbonat. Tubuhnya kebanyakan berwarna pucat dengan bentuk seperti vas bunga, dompet, kendi, atau silinder. Tinggi tubuh kurang dari 10 cm. Struktur tubuh ada yang memiliki saluran air askonoid, sikonoid, atau leukonoid. Rangka spikula dari zat kapur atau CaCO3 dan hidup di laut dangkal. Contoh : Sycon dan Cluthrina

b. Hexactinelida (Hyalospongiae)
Dalam bahasa yunani, hexa = enam atau Hyalospongiae dalam bahasa yunani, hyalo = kaca/transparan, spongia = spons. Mempuyai rangka spikula dari zat kersik dan hidup di laut yang dalam. Ujung spikula berjumlah enam seperti bintang.Tubuhnya kebanyakan berwarna pucat dengan bentuk vas bunga atau mangkuk.Tinggi tubuhnya rata-rata 10-30 cm dengan saluran tipe sikonoid.Hewan ini hidup soliter di laut pada kedalaman 200 – 1.000 m. Contoh : Pheronima Sp.

c. Demospongiae
Demospongiae ( dalam bahasa yunani, demo = tebal, spongia = spons) memiliki rangka yang tersusun dari serabut spongin. Tubuhnya berwarna cerah karena mengandung pigmen yang terdapat pada amoebosit. Fungsi warna diduga untuk melindungi tubuhnya dari sinar matahari. Bentuk tubuhnya tidak beraturan dan bercabang. Seluruh Demospongiae memiliki saluran air tipe Leukonoid.Habitat Demospongiae umumnya di laut dalam maupun dangkal, meskipun ada yang di air tawar. Demospongiae adalah satu-satunya kelompok porifera yang anggotanya ada yang hidup di air tawar. Demospongiae merupakan kelas terbesar yang mencakup 90% dari seluruh jenis porifera. Rangka terdiri dari silikat, bertulang lunak spons atau campuran keduanya contoh Euspongila, Spongila (bertubuh lunak) digunakan orang untuk alat pembersih kaca dan lainnya.

3. Sistem Pencernaan Porifera
Porifera hidup secara heterotrof. Makanan porifera antara lain diatom, protozoa kecil, bakteri dan partikel organik yang mengendap dari permukaan air. Makanan tersebut dicerna secara intraseluler di dalam vakuola.
Spons memperoleh makananya dengan cara menyaring partikel-pertikel makanan yang terbawa arus melewati tubuhnya. Makanan diperoleh dengan cara mengalirkan air melalui ostia (ostium) ke dalam spongiosel. Air digerakkan oleh flagelata yang terdapat pada koanosit. Selanjutnya, air dialirkan ke dalam vakuola yang terdapat di pangkal koanosit untuk dicerna. Bahan makanan yanga sudah dicerna akan diedarkan ke seluruh bagian tubuh oleh sel amebosit. Sisa hasil pencernaan dikeluarkan ke spongiosel dan dibuang keluar tubuh memalui ostium.

4. Sistem Reproduksi Porifera
Reproduksi hewan ini dilakukan secara aseksual maupun seksual. Umumnya, spons bersifat hermafrodit. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule. Dilakukan dengan membentuk tunas pada tubuh induk., lama-kelamaan akan terbentuk koloni porifera. Fragmen-fragmen kecil melepaskan diri dari spons induk, menempel pada substrat, dan tumbuh menjadi spons baru.
Reproduksi aseksual porifera air tawar bisa juga dilakukan untuk mengatasi kondisi lingkungan yang kering dengan pembentukan gemule ( butir benih / tunas internal), yaitu sel amebosit yang dibungkjus oleh tiga lapisan kuat. Gemmule dihasilkan menjelang musim dingin di dalam tubuh Porifera yang hidup di air tawar.Gemule akan terlihat pada saat induk hancur. Jika kondisi lingkungan membaik kemabali, maka lapisan pelindung pecah dan kehidupan dilangsungkan kembali.

Reproduksi secara seksual dilakukan dengan pembuahan sel telur suatu porifera oleh sel sprema porifera yang lain secara internal. Masing-masing individu menghasilkan sperma dan ovum. Kedua sel kelamin terbentuk dari perkembangan sel-sel amebosit atau koanosit. Sel-sel sperma dilepaskan ke dalam air, kemudian masuk ke tubuh spons lain bersama aliran air melalui ostium untuk melakukan fertilisasi. Hasil pembuahan berupa zigot yang akan berkembang menjadi larva bersilia. Larva tersebut akan keluar dari tubuh porifera induk melalui oskulum, kemudian melekat di dasar perairan untuk tumbuh menjadi dewasa.

Porifera melakukan reproduksi secara aseksual maupun seksual.Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule.Gemmule disebut juga tunas internal.Gemmule dihasilkan hanya menjelang musim dingin di dalam tubuh porifera yang hidup di air tawar.Porifera dapat membentuk individu baru dengan regenerasi.Reproduksi seksual dilakukan dengan pembentukan gamet (antara sperma dan ovum).Ovum dan sperma dihasilkan oleh koanosit.Sebagian besar Porifera menghasilkan ovum dan juga sperma pada individu yang sama sehingga porifera bersifat Hemafrodit.

5. Sistem Transportasi Porifera
Alat transportasi porifera menggunakan sel amoeboid. Porifera tidak memiliki darah.

6. Sistem Pernapasan Porifera

Hewan fillum Porifera atau kelompok hewan berpori tubuhnya tersusun atas banyak sel dan memilki jaringan yang sangat sederhana. Hewan ini banyak ditemukan di pantai atau laut. Porifera tidak memiliki alat pernafasan khusus. Alat respirasinya masih sangat sederhana. Air yang mengandung oksigen terlarut masuk melalui pori-pori tubuhnya.Selanjutnya oksigen yang terlarut dalam air masuk melalui sel-sel permukaan tubuhnya, yaitu sel koanosit secara difusi.

Di dalam mitokondria pada sel koanosit,oksigen digunakan untuk mengurai molekul organic menjadi molekul anorganik yang disertai pelepasan karbondioksida. Selanjutnya molekul-molekul karbondioksida yang terlarut dalam air akan bergerak berlawanan arah menuju membram sel dan keluar menuju spongosol. Air dalam spongosol digerakkan oleh flagellum sel koanosit dan mengalir keluar melalui oskulum. Contoh: Spongia sp.

7. Peranan Porifera
Rangka tubuh porifera mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, karena dapat dimanfaatkan sebagai alat pembersih (penggosok) alami ataupun sebagai pengisi jok (tempat duduk) kendaraan bermotor.
Euspongia oficinalis merupakan spons yang biasa digunakan untuk mencuci, sedangkan Euspongia mollisima biasa digunakan sebagai alat pembersih toilet yang harganya mahal. Beberapa jenis Porifera seperti Spongia dan Hippospongia dapat digunakan sebagai spons mandi.
Beberapa jenis Porifera seperti Spongia dan Hippospongia dapat digunakan sebagai spons mandi. Zat kimia yang dikeluarkannya memiliki potensi sebagai obat penyakit kanker dan penyakit lainnya.
Spons menghasilkan senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai pertahanan diri. Senyawa tersebut ternyata berpotensi sebagai bahan obat-obatan. Spesies Petrosia contegnatta mengahsilkan senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai obat anti kanker, sedangkan obat anti-asma diambil dari Cymbacela. Spons Luffariella variabilis menghasilkan senyawa bastadin, asam okadaik, dan monoalid yang bernilai jual sangat tinggi.

8. Archaeocyatha
Archaeocyatha adalah organisma laut dari perairan subtropis dan tropis hangat yang hidup sepanjang awal lebih rendah dari periode Cambrian. Mereka yang pertama dikenal dari awal zaman Tommotian Cambrian, sekitar 530 juta tahun yang lalu dan dengan cepat menganeka-ragamkan ke dalam seratus keluarga-keluarga. Mereka menjadi batu karang planet sangat awal yang membangun binatang.

Hari ini archaeocyathan dapat dikenal oleh kecil tetapi perbedaan konsisten di dalam struktur fosil mereka. Beberapa archaeocyathans telah dibangun seperti mangkuk tersarang sepanjang 30 cm. Beberapa archaeocyaths adalah solitary organisma, yang lain membentuk jajahan. Kemudian, di sekitar 520 juta tahun yang lalu archaeocyaths memasuki suatu kemunduran jelas. Hampir semua jenis berakhir dengan pertengahan Cambrian, dengan jenis menghilang sebelum ujung periode Cambrian, penghilangan dan kemunduran yang cepat mereka bersamaan waktu dengan suatu penganeka-ragaman secepat Demosponges.

Archaeocyathans tinggal di kawasan pantai maupun laut dangkal. Distribusi yang tersebar luas mereka di atas hampir keseluruhan dunia Cambrian, seperti halnya keaneka-ragaman yang sejenis.

Archaeocyathans berperan dalam ilmu stratigrafi yaitu dapat menentukan umur lapisan batuan. Dengan adanya Archaeocyathans di dalam lapisan batuan, maka lapisan batuan tersebut berada pada zaman kambrium.

0 komentar:

Poskan Komentar